Saturday, June 1, 2013

Alasan timbulnya tawuran warga ditiap daerah di indonesia




Tawuran atau Tubir adalah istilah yang sering digunakan masyarakat Indonesia, khususnya di kota-kota besar sebagai perkelahian atau tindak kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok atau suatu rumpun masyarakat. Sebab tawuran ada beragam, mulai dari hal sepele sampai hal-hal serius yang menjurus pada tindakan bentrok.

Tawuran terjadi biasanya karna hal-hal yang kecil dan karena emosi yang memuncak yang tidak disertai dengan akal logika yang sehat maka terjadilah tawuran antar warga. Tawuran yang terjadi biasanya bersifat berlanjut (*kontinyu) terus menerus sampai pihak kepolisian melakukan tindakan represif terhadap kedua belah pihak yang bertikai.
Contoh tawuran yang bersifat kontinyu adalah tawuran di beberapa wilayah jakarta seperti matraman, tanah tinggi, johar baru, dll. Tawuran-tawuran pada daerah tersebut sudah berlangsung lama dan turun temurun. Hal ini bisa terjadi hanya karena hal-hal sepele seperti bersenggolan, pemalakan, berdebat, dll.

Tawuran antar warga dalam banyak kasus sering menumbulkan korban nyawa, luka-luka dan kerusakan harta benda. Akan tetapi, emosi masyarakat sering kali tidak bias dibendung karena berlaku teori kerumunan massa, dimana emosi masyarakt menyatu sehingga emosi membara-bara dan hilang akal sehat.
Kelompok kecil yang dominan pada saat terjadi tawuran, akan mengaruhi dan member dorongan sugestif kepada kelompok masyarakat yang berkerumun sehigga tawuran sulit dikendalikan
Berikut adalah factor terjadinya tawuran antar warga
1.    Faktor Internal
Penyebab tawuran yang bersifat internal bias perseorangan yang tidak bias menyesuaikan diri dilingkungannya, tapi bias juga satu keluarga yang tidak bias adaptatif dilingkungannya.
Kasus tawuranantar warga, ada yang disebabkan pribadi dalam keluarga. Suami isteri, tidak bahagia suka konflik menyebabkan anak-anaknya kehilangan jatidiri dan menjadi Bengal (bandel) yaitu tidak mengindahkan nasihat orang tua, keras kepala, dan suka melawan orang tua. Itu terjadi karena orang tua tidak dapat menjadi contoh teladan dalam hidup berumah tangga.
Akibatnya, anak – anak suka membuat gara-gara dirumah, ditetangga dan lingkungan.
Jika anak – anak mereka memmbuat konflik dirumah, damoak negatifnya hanya menimbulkan rusuh dan rebut dirumah tangga. Akan tetapi jika membuat konflik diluat rumah misalnya ditetangga atau dilingkungan pergaulannya, bias membuat kacau karena jika tetangga menegur dan memprotes dan melakukan tindakan penghentian atas gara – gara yang diciptakannya, maka pihak yang bersangkutan bias melakukan perlawanan. Apalagi kalau membuat gara-gara dilingkungan antar pergaulannya, bias timbul solidaritas dari teman-teman yang Bengal.

2.    Faktor Eksternal
Factor eksternal bias penyebabnya maca-macam seperti :

a.    Faktor Lingkungan
Factor lingkungan sangat mempengaruhi perilaku setiap orang. Lingkungan padat, kumuh dan miskin misalnya, bias menyebabkan warga cepat emosional dan marah. Dan dapat menimbulkan konflik antar sesame.

b.    Faktor Pengangguran
Warga yang tidak mempunyai pekerjaan (menganggur) berpotensi melakukan banyak masalah sebab mereka mempunyai banyak awaktu luang. Waktu lapang khusunya dilingkungan padat, kumuh dan miskin mudah disulut dengan berbagai isu dan persoalan untuk melakukan tawuran.

c.    Faktor Kemiskinan
Masyarakat miskin yang tinggal dikawasan padat dan kumuh, dengan mudah bias disulut untuk melakukan tawuran. Tempat tinggal mereka yang sempit dan dihuni banyak orang, disiang hari terasa panas dan dapat menyebabkan mereka temperamental dan mudah emosi. Persoalan kecil bias saja menjadi pemicu terjadinya tawuran.

d.    Perebutan Lahan ekonomi
Knflik antar warga yang paling sering terjadi adalah perebutan sumber ekonomi misalnya yang terjadi di taman palem, jalan kama raya, Cingkareng. Lahan kosong seluas hamper dua kali lapangan sepak bola tiba-tiba dijaga salah satu kelompok yang mau kuasai lahan tersebut sehingga menimbulkan reaksi pihak lain. Akibatnya terjadi tawuran antar warga

e.    Penjualan narkoba
Dalam kasus tawuran dijohar baru, ditenggarai atau diduga dibalik tawuran tersebut ada penjualan narkoba. Tawuran sengaja disulut untuk mengalihkan perhatian aparat supaya penjualan narkoba leluasa dilakukan.

Apabila ada faktor penyebab pasti ada pula solusi penyelesaiannya. Penyelesaian tanpa cara represif tentunya banyak caranya. misalnya :

  1. Pembuatan pos polisi yang berfungsi untuk menjaga daerah tersebut dari tindakan-tindakan yang dapat menyebabkan tawuran. Pembuatan pos polisi dan polisi yang selalu berjaga di tempat tersebut sudah di terapkan di daerah tanah tinggi, dan hal ini terbukti mampu mengurangi tindak tawuran yang kerap terjadi pada zaman dahulu.
  2. Dibuatnya sebuah lembaga sosial. Pembuatan lembaga sosial dapat berupa Karang Taruna, atau lembaga sosial lainnya yang berfungsi sebagai tempat bertemunya orang-orang dari kedua belah pihak untuk saling berbicara, menjalin hubungan sosial, mengadakan kegiatan positif, dll.
  3. Digunakan pihak ketiga sebagai mediator apabila terjadi sengketa. Pihak ketiga bisa berupa ulama yang berpengaruh, polisi, atau aparat yang berwenang.
Itu semua hanyalah sebagian dari solusi yang coba di buat, solusi yang paling efektif sebenarnya adalah kontrol dari masing-masing individu pada daerah tersebut, agar tidak mudah terpancing emosi dan menyebabkan permusuhan antara kedua belah pihak.


Sumber : nveuu

0 comments:

Post a Comment

 

Hazelnut Coffee Template by Ipietoon Cute Blog Design and Bukit Gambang